12.04.2010

Buat Kompos Mudah, Lho !!

Kompos adalah hasil penguraian material organik, yang dapat dipercepat oleh manipulasi lingkungan mikro guna diperoleh kelembaban, suhu, PH dan intensitas aerasi tertentu sehingga, mikroba mendapatkan suasana kondusif. Dengan keadaan kondusif, mikroba sanggup bekerja terus menerus, tanpa lelah dan tanpa pamrih untuk mengurai Nitrogen dan berbagai senyawa dalam material organik. Memanfaatkan karbon (C) sebagai sumber energi mengurai N, sehingga material organik akan berobah mendekati sifat-sifat tanah. Kompos kualitas baik adalah material dengan sifat mendekati tanah, dan dengan itu aneka nutrisi dalam kompos dapat diserap tanaman. Kompos demikian antara
lain ditunjukkan oleh tampilan fisik gembur, berwarna kehitaman, tidak berbau, dan remah. Namun, penampakan fisik seperti diatas belum menjamin kompos telah baik serta nutrisinya dapat dimanfaatkan tanaman. Secara laboratorium, kompos yang baik bagi tanaman ketika memiliki perbandingan di kisaran C/N< 20, atau berobah dari material asalnya ( sampah  dan limbah organik) masih lebih besar dari 40/1.  Kompos kualitas baik antara lain memiliki kandungan karbon terhadap nitrogen dengan perbandingan C/N< 20. Disamping parameter C/N,  walaupun kecil, kompos yang baik juga mengandung nutrisi pupuk ( NPK dan unsur hara makro sekunder serta mikro elemen) serta senyawa penting bagi pertumbuhan tanaman.
Membuat kompos adalah merobah perbandingan C/N material organik, berupa sampah atau limbah dan aneka bahan organik, dari bahan asalnya dengan perbandingan < 20 ( misalnya pada material limbah sayuran, limbah cair, kotoran hewan, bulu ayam, limbah makanan) atau memiliki CN > 20 ( seperti material kulit kayu, jerami padi, serbuk gergaji, daun kering), menjadi perbandingan pada kisaran C/N < 20. Perobahan C/N di alam, tanpa campur tangan manusia, bisa berlangsung beberapa bulan, seperti halnya serasah di hutan berobah menjadi humus. Namun dengan bantuan manusia mengelola lingkungan mikro yang disukai mikroba pengurai, melalui pengelolaan PH, suhu, kelembaban dan intensitas aerasi tadi, penguraian bisa berlangsung dengan cepat.
Metoda bedeng terbuka ( open windrows) atau pembuatan bokashi, sebagaimana dilakukan di pertanian sejak beberapa dasawarsa lalu, sebenarnya adalah metoda yang berusaha melakukan pengelolaan berbagai kondisi sesuai kebutuhan mikroba tersebut. Dengan menebar material dalam bedeng, mencampur aneka starter, membalik menggunakan cangkul setiap 7 hari serta menutup adonan dengan terpal mampu mempercepat pembuatan kompos menjadi sekitar 2 bulan. Walaupun metoda pembuatan kompos ini populer di pedesaan dan pertanian, kebutuhan manusia modern dan khususnya bagi warga kota, teknik itu masih dianggap belum dianggap cocok dan praktis dilihat dari kebutuhan tanah bedeng yang mahal, lamanya waktu, keperluan tenaga yang secara manual melakukan pembalikan serta timbulnya pencemar berupa bau dan cairan lindi yang meresap ke tanah.
Penggunaan komposter atau rotary kiln, dengan memadukan mikroba, ragi dan fungi dalam spesifikasi alat komposter atau type rotary kiln tertentu, berusaha memodernkan pengelolaan lingkungan mikro dalam proses penguraian organik sehingga mampu diselesaikan lebih cepat dibanding teknik bedeng terbuka, menjadi hanya dalam lima (5) hari., Disamping percepatan waktu penguraian, komposter dan rotary kiln juga mampu meminimalkan cemaran serta higienis. Kebutuhan intensitas aerasi, mempertahankan PH, suhu dan kelembaban menjadi terjamin dan stabil dan selalu sesuai (compatible) dengan jenis bakteri pengurainya. Berkat pengetahuan akan karakter bakteri berdasar jenisnya, kemudian dibuat alat dengan spesifikasi tertentu, penguraian material organik dapat dilakukan dengan sesedikit mungkin pekerjaan bagi manusia, sehingga membuat kompos jadi mudah. Dan, tentu saja dengan alat mesin, keluhan dari timbulan cemaran proses penguraian ( dekomposisi) seperti bau, keluarnya binatang dan cairan lindi dapat diminimalkan atau hilang, karena kondisi lingkungan mikro yang kondusif membuat bakteri pengurai sahabat manusia ( probiotik) bekerja tanpa tidur ( dorman) lagi. Ketika mikroba menguntungkan manusia bekerja penuh, mikroba merugikan ( patogen) tidak sempat berperanan mengeluarkan proses anaerobik pembuat bau busuk, yakni gas methana (CH4) dan H2S. Membuat kompos pun, dengan bakteri pengurai yang dibantu oleh komposter atau rotary kiln pada spesifikasi tertentu, menjadi cepat, higienis dan ekonomis. Buat kompos, mudah lho !!  

Posko Hijau ( Kelola Sampah Berbasis Komunitas): Buat Kompos Mudah, Lho !!

4 komentar:

  1. Anonim9:00 AM

    Kompos bisa dibuat pupuk lebih bagus lagi dengan menjadi pupuk hayati ? apakah mesin rotary kiln itu bisa jadi mixer untuk bantu untuk mencampur inokulan dengan kompos agar jadi pupuk hayati ( bio fertilizer) ?

    BalasHapus
  2. Anonim9:01 AM

    ok bisa dimengerti, namun berapa investasi tambahan dibanding model bedeng ? atau kami sdh punya bedeng dan bangunan serta alat pencacah, berapa lagi kurangnya ?

    BalasHapus
  3. benar pak, kompos hasil mesin kompos Rotary Kiln bila ditambahkan inokulan bakteri ( pengikat N2, pelepas posfat dan zat pengatur tumbuh/ZPT) bisa di campur dalam mesin kompos ini juga. Hasil pencampuran itu akan memiliki kualitas pupuk hayati, nutrisi bagi dormansi bakteri ada dalam kompos.

    BalasHapus
  4. Pencacah adalah salah satu alat mesin bagi pembuatan kompos, namun fungsinya baru mengecilkan ukura. Bagi penjagaan PH, suhu pada rentang bagi bakteri hidup dan bekerja, kelembaban, porositas dan pencampuran memerlukan Rotary Kiln, sebagai mesin kompos menggantikan model bedeng. Dengan mesin kompos, persyaratan bagi penguraian itu akan belangsung cepat, dan hasil cairannya dapat tertampung dalam tabung (Kiln).

    BalasHapus

Mari gabung diskusi