12.28.2010

Kompos dan Hara Anorganik, perkuat Vigor Tanaman melawan Penyakit


Fenomena di lapangan dengan banyaknya petani (padi sawah) menggunakan pupuk N (urea) over dosis, dari rekomendasi rataan per Ha/musim = 250 kg diaplikasi hingga lebih 500 kg/Ha bahkan lebih, sangat mengkhawatirkan jika dilihat dari kepentingan perkuatan vigor tanaman terhadap serangan penyakit. Anggapan para petani, tanpa penambahan dosis urea itu, konon daun padi maupun jagung tidak hijau dan telah terjadi penurunan hasil dari biasanya, harus segera mendapat pencerahan. Kondisi berlebihan, dosis pupuk kimia, bukan saja membuat subsidi negara kepada pupuk, dari tahun ke tahun, akan makin besar melainkan juga, eksploitasi sawah melalui masukan dosis tinggi pupuk kimia akan menurunkan kemampuan tanaman melawan penyakit. Padahal, tanah sawah, yang memang sudah over eksploitasi, sebenarnya kekurangan C Organik menjadi pangkal penyebab dari penurunan produktivitas, dan bukan kurang nutrisi pupuk. Bayangkan, jika setiap musim di panen 6 sd 8 ton/ ha gabah, namun input (pupuk kimia urea, SP dan KCL) ke sawah 500 kg, tanpa adanya masukan lain dari bahan organik oleh pengembalian limbah sisa panen dan bahan organik lain ( sisa makanan manusia, sisa dapur dan sampah organik) kedalamnya, puluhan tahun sawah itu ditanami, akan dikuras habis kesuburannya.

Hal berbeda dengan keadaan umum petani diatas, bagi yang menyiapkan bertani padinya dirancang sebagai usaha (bisnis). Dengan tujuan  pemeliharaan tanah secara jangka panjang, petani di luasan 10 ha, sejak tahun 2005 di Ciparay Bandung, ibu Tuti melakukannya secara berbeda. Dengan terlebih dahulu menetapkan segmen pasar beras yang akan dihasilkannya yakni konsumen beras sehat, dirancanglah usaha produksi dan membuat beras BerSeka ( beras sehat).


Guna memenuhi tren permintaan konsumen tersebut, kemudian digunakan paket teknologi untuk penciptaan kualitas beras sehat, rasa enak dan pulen, dengan memberikan kompos, pupuk organik cair dan pupuk tablet Gramalet Padi. Pemanfaatan kompos dan pupuk kimia secara tepat, atau pemupukan terpadu dengan pupuk anorganik dikombinasi pupuk organik kompos, pada padi sawah, telah menampakan hasil berbeda. Vigor tanaman lebih kekar, malai dengan gabah lebih bernas, perolehan rendemen beras meningkat, hingga rataan 77 persen dari gabah kering giling (GKG). Dan, rasa nasi jadi  lebih pulen enak. Kombinasi kompos dan unsur hara anorganik dari pupuk tablet Gramalet, pada tanaman padi  dan jagung, menunjukkan adanya perkuatan vigor tanaman. Lebih lanjut, perkuatan vigor tanaman telah menunjukkan, menurunnya intensitas OPT, naiknya kemampuan melawan penyakit. Menurunnya intensitas  organisme pengganggu tanaman (OPT), ditunjukan oleh pengamatan visual. Sawah, dengan aplikasi pupuk tunggal berupa Urea, SP dan KCL, di sekitar lokasi Ibu Tuti, terkena serangan wereng, padahal, saat sama, sawah dengan aplikasi kompos dan Gramalet tablet memiliki penampilan kekar dan tidak roboh oleh angin kencang.


Penggunaan tablet Gramalet Padi, dengan dosis 120 kg ( varietas lokal dan unggul) atau 160 kg ( padi hibrida), akan terdapat penghematan nasional atas urea, SP dan KCl. Cara aplikasi Pupuk Gramalet Padi adalah dengan membenamkan 3 gr pupuk Gramalet® Padi (1 butir @ 3 gr) diantara/ ditengah-tengah 4 rumpun padi, pada kedalaman sekitar 5 cm dari permukaan tanah. Penggunaan aplikator urea tablet, misalnya, juga dapat membantu percepatan pembenaman. Aplikasi dosis 3 gram tablet  pada setiap 4 rumpun jangan melebihi dosis yang ditetapkan. Caranya, lewati 1 antara 4 rumpun, yaitu kesamping kiri dan kanan maupun ke depan dan belakang. Sawah dalam keadaan pengairan macak – macak dan waktu pemupukan pada ( 3 – 14 ) HST ( Hari Setelah Tanam) direkomendasikan.

Penggunaan pupuk organik, berupa kompos padat, dilakukan dengan cara menabur pada lahan sawah sesaat pemupukan tablet. Sementara, pupuk organik cair dilakukan dengan cara disemprotkan ke arah daun dan batang, setiap minggu, atau di saat dirasakan perlu.  


Dosis pupuk tablet Gramalet® Jagung tergantung pada varietas dan jarak tanam. Bagi varitas berumur dalam ( ± 110 hari) - seperti Harapan Bogor, Composite, populasi optimum adalah ± 50.000 tanaman/ ha, dengan jarak 100 x 40 cm, akan memerlukan dosis Gramalet® Jagung 150 kg/ Ha atau benamkan antara 2 rumpun sebanyak 2 tablet ukuran 3 gram/ tablet apabila 2 benih tanaman per lubang. Sedangkan dengan jarak tanam 75 x 25 cm, dengan 1( satu) benih tanaman jagung per lubang, benamkan 1 tablet 3 gram diantara 2 rumpun pada kedalaman 10 cm atau dosis setara dengan 75 Kg Gramalet® Jagung.

Bagi Varietas jagung berumur tengahan ( 80 - 90 hari) - misalnya Panjalinan dan Genjah Kretek, optimum populasi adalah 70.000 pohon/ ha, ditanam dengan jarak tanam 75 x 20 cm dengan 1 ( satu) butir benih per lubang agar benamkan 1 tablet pupuk Gramafix Jagung diantara 2 batang. Bagi 1 tablet diantara 2 rumpun jagung dengan 1 benih/ lobang/ rumpun, akan diperlukan dosis 105 Kg pupuk Gramafix Jagung.

Bagi varietas berumur genjah ( 70 - 80 hari ) seperti Genjah Madura, populasi dapat ditingkatkan sampai 100.000 tanaman/ ha, bahkan pada tanah subur, populasi dapat mencapai 200.000 tanaman/ ha, dengan jarak tanam 50 x 20 cm atau 50 x 10 cm dengan 1 ( satu) tanaman per lubang; Benih ditanam 2 -3 biji per lubang, kemudian diperjarang pada umur 2 - 3 minggu setelah tanam, di mana ditinggalkan tanaman yang tegap dan sehat saja sehingga mencapai populasi yang diinginkan sesuai dengan jarak tanam yang digunakan dan penanaman benih adalah 3 butir/ lobang. Dengan 3 lobang / rumpun, benamkan 1 tablet pupuk Gramaflet Jagung diantara 2 rumpun atau dosis per Ha akan setara dengan 150 Kg/ Ha bagi populasi 100.000 pohon/ Ha dan dosis 300 kg/ Ha bagi populasi jagung hingga 200.000 pohon/ Ha.

Penggunaan pupuk organik, berupa kompos padat, dilakukan dengan cara menabur pada lahan sawah sesaat pemupukan tablet. Sementara, pupuk organik cair dilakukan dengan cara disemprotkan ke arah daun dan batang, setiap minggu, atau di saat dirasakan perlu. 

Selanjutnya,
Pupuk Kebun ( Memadu Organik dan Anorganik): Pemupukan Kombinasi Pupuk Organik dan Anorganik, Hasilnya Beras Sehat

3 komentar:

  1. Anonim4:28 PM

    apakah dengan pupuk tablet khusus padi atau jagung ini tidak perlu gunakan obatan pestisida ?

    BalasHapus
  2. Anonim1:24 AM

    Di Indonesia, produktifitas lahan sawah kita, rata-rata hanya 4 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektar per musim tanam. Sementara petani Thailand sudah bisa mencapai rata-rata 6 ton GKP per hektar per musim tanam. Rahasianya ada di kualitas benih dan pemupukan. Untuk mencapai hasil rata-rata 6 ton GKP, diperlukan aplikasi pemupukan organik minimal 3 ton per hektar per musim tanam. Untuk kondisi tanah sawah di Jawa yang telah terlanjur rusak karena keracunan nitrogen akibat pemupukan urea dosis tinggi, diperlukan aplikasi kompos minimal 5 ton per hektar per musim tanam. Baru pada musim-musim tanam berikutnya, dosis kompos itu pelan-pelan diturunkan hingga menjadi 3 ton per hektar per musim tanam.

    Bagaimana memenuhi kebutuhan kompos sebanyak itu per Ha dan petani bisa menjangkau belinya ?

    BalasHapus
  3. Anonim2:07 AM

    Pemakaian pupuk seharusnya bisa dihemat. Selama ini, penggunaan pupuk urea, SP-36, maupun KCL melebihi jumlah yang direkomendasikan. Untuk memberikan panduan bagi petani dalam penggunaan pupuk yang tepat dan efisien, Departemen Pertanian mengeluarkan Rekomendasi Pemupukan N, P dan K pada padi sawah spesifikasi lokasi.

    Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Lit bang) Pertanian, Achmad Sarana, di Jakarta, Rabu (9/5), rekomendasi yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian No 40/2007 itu merupakan rekomendasi pemupukan hingga ke tingkat kecamatan.

    Selama ini, kata Achmad, penggunaan pupuk urea yang dianjurkan adalah 250 kg per hektare (ha) namun petani memakai urea hingga 500 kg sampai 700 kg per ha. Sementara itu, penggunaan pupuk jenis TSP atau SP-36 bisa mencapai 350 kg per ha, sedangkan pupuk KCL sekitar 200 kg per ha.

    BalasHapus

Mari gabung diskusi