11.30.2010

Label dan Kemasan, Meningkatkan Citra Kompos

Kompos adalah pupuk organik yang terbuat dari penguraian ( dekomposisi) bahan-bahan organik atau alami, berasal dari material makhluk hidup ( hewan, manusia dan tumbuhan).  Selain kompos, termasuk dalam katagori pupuk organik ini antara lain pupuk kandang, kascing, gambut, rumput laut dan guano. Namun sering juga amilioran hasil tambang seperti zeolit, dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu ( kaya kandungan K) ke dalam golongan pupuk organik, padahal amilioran lebih berfungsi hanya pembenah tanah tanpa kandungan nutrisi yang memenuhi syarat disebut pupuk.
Jika berdasar pada bentuk,  pupuk organik termasuk kompos, dapat dikelompokkan menjadi padat, granul, remah ( teh), serbuk dan cair. Pupuk organik bentuk padat, antaranya hasil olahan dari bahan hewan, adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan, sementara bentuk cair antara lain teh kompos (compost tea), ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, fermentasi tumbuhan-tumbuhan, dan lain-lain.
Kompos, sebagai bagian dari jenis pupuk organik, memiliki kandungan hara yang lengkap, bahkan di dalam kompos juga terdapat senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat, dan senyawa-senyawa organik lain. Namun, kandungan hara tersebut rendah. Berdasarkan pengalaman dalam pembuatan kompos selama lebih dari 5 tahun, tidak ada pupuk organik kompos memiliki kandungan hara tinggi atau menyamai pupuk kimia (buatan).

Gairah masyarakat dalam membuat kompos, selain yang bermotif hobby, sering terkendala pemasarannya. Walaupun secara kalkulasi, volume kompos untuk memperbaiki lapisan olah tanah, dibutuhkan oleh jutaan Ha lahan pertanian, namun daya beli petani dan masih rendahnya apresiasi para pengusaha perkebunan dan pertanian akan peranan kompos, menyebabkan sebagian pengusaha kompos kekurangan pembeli, sulit memasarkannya. Disamping kondisi pasar konsumen kompos seperti diatas, seringkali pemasar dan pengusaha kompos juga belum menetapkan teknik pemasaran yang tepat. Beberapa pembuat kompos, misalnya BUMD PD Kebersihan, mengemas kompos asal jadi, pada karung sederhana dengan ikatan tali rafia. Jelas saja, persepsi konsumen akan kompos dengan tampilan demikian, akan mempersepsikan bahwa kompos adalah barang kelas bawah (inferior). Jauh berbeda dengan kompos di negara maju, karena daya beli konsumen yang makin pro lingkungan, produk kompos makin berkualitas dan disajikan menarik.

Memahami kondisi pemasaran kompos seperti itu, CVSK sebagai perusahaan berpengalaman dalam penyediaan teknologi kompos, mengenalkan cara baru dalam mengefisienkan sistim produksi kompos. Bagi pengguna paket lengkap teknologi Biophoskko, CVSK menyediakan kemasan bagi kompos padat maupun bentuk cair, dengan label dan legalitas sudah memadai bagi pengedaran dan pemasarannya. Dengan cara itu, kompos, yang dihasilkan para penggiat lingkungan, pengusaha kompos, pengolah sampah dan usaha jasa kebersihan dapat langsung dijual dan dipasarkan kepada konsumen ( petani, pehobbies tanaman hias, pengelola taman dan usaha pertanian lainnya). Bagi sasaran pasar eceran (retail) pola demikian akan memberi manfaat pada pembuat kompos dan konsumen, mobilisasi produk menjadi lebih murah yang pada giliran berikutnya akan menekan harga penjualan atau meningkatkan margin usaha kompos itu sendiri. Dan, terlebih penting, citra kompos sebagai material penting bagi perbaikan kualitas lingkungan akan meningkat*)

2 komentar:

  1. Anonim9:49 PM

    ok bagus, agar kompos makin luas pasarnya, sampah di kota pun akan terolah jadi berkah, maju terus kompos !!

    BalasHapus
  2. di Sumut ada gak distributor pupuknya..?

    BalasHapus

Mari gabung diskusi