12.09.2007

Komposter Elektrik Solusi Masalah Sampah di Rumah


Setelah lama bergulat dengan penciptaan alat pengolah sampah (komposter) bagi pengolahan sampah menjadi kompos, CVSK kini meluncurkan kembali produk terbaru dengan nama Komposter Elektrik Biophoskko® sebagai solusi terhadap masalah sampah di rumah. Kita ketahui, keberadaan sampah dimulai dari unit terkecil penghasil sampah yakni rumah tangga. Dengan makin sibuknya keluarga, untuk agar tetap dapat mengelola sampahnya, komposter elektrik memberi pilihan karena praktis, higienis dan cepat dalam mengolah sampah dapur, pekarangan dan sisa makanan di rumah. 

Berdasar pada banyaknya permintaan agar ada penggerak motor bagi komposter skala rumah tangga ( S,M,L) yang selama ini manual- yang selama ini dipasarkan, khususnya bagi peminat berdaya beli tinggi, komposter Elektrik diciptakan dengan tawaran kepraktisan. 

Komposter Elektrik Biophoskko® diciptakan untuk memenuhi keinginan para pehobies tanaman, bunga dan pencinta lingkungan - yang memiliki kegemaran, kepedulian dan keinginan mengolah sampah organik ( material yang berasal dari makhluk hidup tumbuhan, hewan dan manusia) guna mendapatkan kompos secara praktis. 
Dengan dimensi PLT (Panjang x Lebar x Tinggi) adalah = 55 cm x 55 cm x 85 cm, terbuat dari bahan fiber, plastik dan motor engine hasil perakitan (assembling) aneka spare part dikota Batam ini, hanya memerlukan daya listrik 330 watt, 220 Volt dengan lama waktu penggunaan hanya 5 kali masing-masing 10 menit. Dengan Komposter elektrik Biophoskko®, membuat kompos menjadi mudah dan sangat praktis.

Tatacara membuat kompos dari bahan sampah dengan menggunakan komposter elektrik Biophoskko® :

1. Siapkan bahan berupa sampah organik ( sisa makanan, material berasal dari tumbuhan dan hewan ) untuk sekali proses dalam Komposter Elektrik sesuai kapasitas alat yakni 50 liter atau setara 10 kg, kemudian Penggembur ( bulking agent) Green Phoskko 3 % dari bahan sampah ( 300 gram) serta Aktivator Green Phoskko ( bakteri aktinomycetes- spesies aktinomyces naeslundii, Lactobacillus spesies delbrueckii, Bacillus Brevis, Saccharomyces Cerevisiae, ragi, dan jamur serta Cellulolytic Bacillus Sp) sebanyak 1 permil ( 1 sendok makan)

2. Larutkan bahan Aktivator Green Phoskko sebanyak 1 permil ( 1 sendok makan) kedalam air mineral atau air sumur ( sedapat mungkin hindarkan air ledeng yang mengandung kaporit dan kimia pembersih) sekitar 5 liter, aduk beberapa kali dan simpan dalam pot siram 4 jam sebelum digunakan untuk pertamakalinya,

3. Masukan sampah yang berukuran sekitar 15 mm, sebagaimana ukuran umumnya sampah makanan (foodwaste) dan sampah dapur. Bagi sampah ukuran besar- seperti sampah pasar pada umumnya - agar terlebih dahulu mendapat perajangan sebelum dimasukan kedalam komposter,

4. Masukan penggembur ( bulking agent ) kompos sebanyak 3 % dari berat sampah atau setara dengan 300 gram. Penggembur ini berguna untuk menyerap bakteri merugikan (patogen) penyebab bau busuk- yang umum terdapat dalam sampah organik yang telah tersimpan tanpa oksigen atau sampah bukan segar,

5. Cipratkan mikroba aktivator kompos Green Phoskko® ( compost activator) yang merupakan hasil pelarutan serbuk mikroba ( mikroba dalam keadaan dorman tersimpan dalam serbuk tertentu) kedalam air mineral atau air sumur ad2 tadi melalui pot siram,

6. Putar saklar timer ( sebelah kanan alat) untuk menghidupkan sistim pengadukan komposter selama 10 menit - yang sebelumnya telah terhubung ke sumber listrik 330 watt, dan komposter akan mati (off) dalam menit ke 10. Hidupkan saklar timer ini 5 kali sehari sampai kompos dipanen pada hari ke 5 dari sampah terakhir yang dimasukan, Pada hari ke 3, jika proses pembuatan kompos secara aerob berjalan baik, akan terjadi reaksi panas dan mengeluarkan uap,
7. Pada hari ke 5 sejak pemasukan adonan kompos terakhir, adonan telah selesai fermentasi dengan tanda mulai mendingin dan berwarna hitam. Pada saat ini siapkan jerigen plastik - penampung kapasitas 5 liter - dan masukan slang pembuangan kedalam jerigen serta kemudian hidupkan tombol membilas (spinning) di sebelah kiri alat. Komposter akan memeras adonan bahan kompos tadi sehingga terpisahkan antara air lindi aerob (leacheate) dengan kompos padat. Tambahkan air sebanyak 10 x dari jumlah cairan leacheate ini, maka kompos cair siap digunakan sebagai pupuk organik cair ( POC). Gunakan dalam keperluan pemupukan tanaman, baik dengan cara disiramkan ke sekitar perakaran tanaman maupun disemprotkan dengan menggunakan sprayer ke area daun dan batang,

8. Setelah diperkirakan cairannya habis, keluarkan adonan kompos padat, simpan dan angin-anginkan di tempat teduh dan bebas dari sinar matahari langsung serta air hujan,

9. Pada keesokan harinya, satu hari sejak dikeluarkan dari komposter, adonan akan kering, hitam dan gembur. Dengan dipukul-pukul sejenak, adonan kering tersebut akan pudar dan remah. Adonan kering dan remah itulah kompos, yang kalau diayak ( screen) akan terpisahkan bagian kompos dengan butiran halus dan dilain pihak terdapat kompos butiran besar. Sesuai keperluan dalam penggunaannya sebagai kompos bagi tanaman, kompos ukuran besar masih bisa dikembalikan kedalam komposter untuk diolah lagi bersamaan dengan bahan atau adonan kompos yang baru,

10. Selama masa penggunaan komposter elektrik, bahan sampah hari ke 2 dan seterusnya dapat ditambahkan tanpa akan mengganggu proses aerob composting yang berlangsung sebelumnya.

6 komentar:

  1. People should read this.

    BalasHapus
  2. kalo sampah bisa ditambahkan tiap harinya, dan dipanen hari ke 5 berarti, sampah yang dikomposkan pada hari ke 4 misalnya, cuma mengalami masa pengomposan sehari ya?
    Apa bahannya sudah hancur pada hari tersebut?
    terima kasih

    BalasHapus
  3. tidak begitu mbak, memang panen tetap harus H+5 sejak sampah terakhir ditambahkan. Ini diajukan sebagai solusi jika keluarga sibuk, memanen komposnya bisa kapan saja, karena makin lama dalam komposter sebenarnya kualitas kompos meningkat.

    BalasHapus
  4. Anonim10:26 PM

    luar biasa... inovasi yang luar biasa...
    saya akan segera pesan...

    BalasHapus
  5. Anonim5:48 AM

    hebat, ternyata di Indonesia sudah ada komposter yang modern seperti ini, bravo !!! Lanjutkan Inovasi, save the earth !!

    BalasHapus
  6. Achmad Sodiq1:08 AM

    Bagaimana jika sampahnya adalah rumput2an hasil kerja bakti komplek perumahan pak? Ada saran spy bisa lebih tepat penggunaannya pak?

    BalasHapus

Mari gabung diskusi