8.27.2006

Bersiap Ke Negeri Jiran Produksi Kompos


Hari sabtu tanggal 26 Agustus, CVSK kedatangan tamu istimewa yakni Mr Adzmy Abdullah- Deputy Secretary General Ministry of Entrepreneur dan Co-operative Development Malaysia serta Mohd Shukri Abdullah - Chief Executive Officcer MIHAZ Malaysia dengan Rombongan guna meninjau Model Small Business yang berpeluang dikembangkan di Malaysia. Maka kita ajak beliau serta rombongan ke Instalasi Pengelolaan Kompos Kota (IPKK) di Ciparay Bandung.


Prospek nya adalah antara lain :

1.Kementrian Koperasi dan Usahawan Malaysia akan mengusulkan model small business pengelolaan sampah jadi Kompos di Kerajaan Malaysia dan membantu KMSB importer mendapatkan "permit import" serta pemasaran peralatannya kepada Usahawan Malaysia ,

2. Dimintakan kesiapan CVSK mengirim tenaga ahli pengalaman dalam pengolahan sampah menjadi kompos mendampingi Usahawan kecil Bumiputera Malaysia berikut tenaga operator terampil-nya atau secara khusus para Usahawan UKMK Indonesia berpengalaman dengan teknologi Komposter Biophoskko® investasi kecil di negeri jiran.

Nah, tentu saja bagi yang sukses dan pengalaman mengelola dan membangun Instalasi Pengolahan Kompos di Indonesia ( bs klik : IPKK ( Instalasi Pengolahan Kompos Kota ) di Kota-Kota di Indonesia, atas support teknologi Biophoskko® selama ini, akan berkesempatan meluaskan bisnis kompos nya di Malaysia dengan harga jual dan penerimaan dijamin 10 kali lipat dibanding harga di dalam negeri. 
Karenanya, suatu saat mengolah sampah Malaysia - yang jelas lebih menguntungkan jika harga kompos berkali lipat dan ditambah adanya penerimaan dari retribusi ( Typing Fee) dari kerajaan Malaysia- dibanding di Lokal Indonesia tanpa insentif, akan merupakan prospek bisnis bagi para usahawan Indonesia bermuhibah ke negeri jiran Malaysia membawa teknologi, tenaga kerja dan tentu saja sedikit modal.

Dan, tentu saja kami, CVSK, berharap memiliki ribuan kader -kader usahawan - yang mau berkembang sampai ke negeri seberang. Dapat dihitung perolehannya bagi devisa nasional, jika mengolah sampah kota Kualalumpur saja yang 2600 ton/ hari diperlukan 2600 IPKK skala 1 ton model IPKK Bandung, Bogor, Surabaya dan kota lainnya; maka, berapa keuntungan Indonesia dapat dihitung jika suatu negeri Malaysia diolah sampahnya oleh alat, bahan, UKMK beserta para operator dan tenaga kerjanya juga "ekspor" dari Indonesia ????
Mr Adzmi Abdullah Deputy Secretary General Kementrian Koperasi dan Usahawan Malaysia dan Moh Shukri MIHAZ mendapat penjelasan Mikroba, mineral Green Phoskko® dan Komposter dari Direktur PT CVSK, Sonson Garsoni.
Dan Pers Jawa Barat juga, PR ( Senin, 28 Agustus 2006) menulis laporannnya dengan enak dibaca dan perlu sebagaimana dibawah ini :
________
Hanya Rp 150.000,00 untuk Mengolah 1 Ton Sampah

BANDUNG, (PR).-Teknologi pengolahan sampah menjadi kompos dengan menggunakan mikroba atau lebih dikenal dengan istilah komposter mulai dilirik oleh Malaysia. Selain mampu mengurangi sampah, teknologi ini juga dinilai mampu menciptakan dan menumbuhkan wirausaha baru di bidang pengolahan sampah.


Deputy Secretary General, Ministry of Entrepreneur and cooperative Development (MECD/Kementerian Pembangunan Usahawan dan Koperasi) Malaysia, Adzmy Abdullah mengakui sampah merupakan masalah besar. "Di Malaysia, sampah mencemari lingkungan. Namun, di Bandung, sampah malah bisa jadi uang. Maka dari itu, kami tertarik teknologi ini," papar Adzmy saat berkunjung ke Ciparay, Kabupaten Bandung, lokasi pengolahan sampah dengan teknologi komposter, Sabtu (26/8).


Menurut Adzmy, teknologi komposter ini ramah lingkungan dengan penerapan yang cukup mudah. Sementara, di Malaysia sendiri, belum ada usahawan yang menggunakan teknologi ini. Ia berkeyakinan, penggunaan teknologi komposter akan membantu memecahkan masalah sampah di negeri jiran itu."Sampah bukan urusan kementerian kita, namun kita tertarik karena menghasilkan uang. Kita akan coba dorong usahawan agar mau mengelola usaha ini," tuturnya.
Dia menilai, pengolahan sampah dengan teknologi komposter di Indonesia, telah mampu menghasilkan uang dan membuka peluang usaha baru. "Ini yang akan kita terapkan di Malaysia, lewat sampah kita ciptakan usahawan baru," katanya.


Adzmy berniat untuk meyakinkan pemerintah Malaysia, untuk bekerja sama mengimpor peralatan teknologi komposter beserta mikrobanya dari Indonesia. Bahkan, dia pun menginginkan tenaga ahli dan tenaga kerja untuk bekerja di pengolahan sampah dengan teknologi komposter dari Indonesia.

Selain itu, Kementerian Pembangunan Usahawan dan Koperasi Malaysia akan menfasilitasi masyarakat Malaysia yang akan menerjuni bisnis ini. Hal ini dinilai Adzmy tidak akan mengalami kesulitan, apalagi banyak masyarakat Malaysia yang tertarik jadi owner operation bisnis ini.


Pada kesempatan yang sama, Direktur PT CV Sinar Kencana (produsen komposter), Ir. Sonson Garsoni mengungkapkan, mengolah sampah menjadi kompos merupakan bisnis yang cukup menjanjikan. Apalagi harga kompos di Malaysia mencapai 4 ringgit ( RM 4,- ) -atau setara Rp 10.000,00/kg, sedangkan di Indonesia Rp 500,00 sampai dengan Rp 1.000,00/kg.


Dengan menggunakan teknologi komposter ini biaya produksi relatif kecil. "Untuk mengolah satu ton sampah rumah tangga diperlukan biaya sekira Rp 115.000 sampai Rp 150.000,00 dengan produksi kompos mencapai 500 kg atau setara Rp 500.000,00, jika harga kompos di Indonesia yang hanya Rp 1000,-/ kg" tutur Sonson.


Saat ini, telah ada 1.200 unit teknologi komposter yang digunakan tersebar di Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Padang, dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Selain itu, Brunei Darussalam dan Malaysia yakni Negara Bagian Selayang juga telah mengimpor peralatan komposter ini. 


"Sayangnya, untuk Malaysia ada persoalan. Mikroba masih terganjal izinnya harus ada "import permit". Dikhawatirkan, mikroba masih dianggap berbahaya. Walaupun sebenarnya mikroba yang kita gunakan tidak berbahaya karena mikroba ini yang ada di alam. Hanya saja, telah ”ditidurkan”. Kita berharap, izin untuk mikroba ini bisa keluar. Kalau tidak, solusinya kita produksi mikroba di Malaysia," papar Sonson. (A-155)***
_______________________________________________________________________
Customer Announcement :
Bagi pengguna Komposter Biophoskko® - yang kini telah tersebar di berbagai kota Indonesia dan telah berpengalaman serta berminat buka Instalasi (IPKK) Biophoskko di Malaysia - dapat kiranya mendaftarkan diri dengan kirim minat pada kami via e mail greenphoskko@kencanaonline.com atau mendapat keterangan langsung melalui agen dan Perwakilan kami dengan alamat bisa di klik antara lain :
___________________
_____________________
_____________________________
____________________________________
4. Pekanbaru, http://indonetwork.co.id/kencana_riau/profile, atau langsung
_______________________________________________
___________________________________
Kami segera akan menandatangani kesanggupan dan kesiapan kepada pihak Kerjaan Malaysia untuk mengirim dalam tahun 2006 ini juga, karenanya diharapkan dapat terkirim minimal ratusan Usahawan IPKK, alat Komposter dan bahan berikut dengan ribuan tenaga kerjanya siap berbisnis di Malaysia.+++)


3 komentar:

  1. Anonim1:05 AM

    Kami sangat berminat, namun harus terlebih dahulu berpengalaman dengan komposter Biophoskko tersebut ? Kalau dari hitungan diatas dan kita jual di Malaysia artinya pendapatannya bisa Rp 5.000.000,- untuk tiap unit R Klin ya Pak ?

    Sungguh luar biasa, saya tahu di Malaysia memang kompos luar alias import susah masuk maka kita akali produksi di sana. Kami akan segera kordinasi ke Perwakilan PT CVSK, thank s banget buat kami usahawan kecil ini sangat memberi inspirasi.

    Sunyoto
    Semarang

    BalasHapus
  2. Trims atas komentarnya Pak, perlu diperjelas bahwa hasil yang akan didapatkan di Malaysia :

    1. Kompos ( baja organik, istilah disana) Rp 5.000.000,- ( sekitar RM 200),

    2. Pupuk Cair bisa didapatkan 50 liter / per ton bahan sampah organik atau sekitar Rp 5000.000,- ( kami belum mendapatkan harga pasti Liquid Organic namun diasumsikan saja Rp 10.000,-/ liter setara harga Indonesia)

    3. Typing Fee dari kerjaan Tempatan di Malaysia ( dari Cukai Pintu atau Retribusi kebersihan warga) sekitar RM 150/ per ton sampah

    Wah hitung sendiri deh pak.

    Yang penting, Pak Sunyoto kuasai saja dulu 1-3 bulan ini mengolah sampah di loaksi menggunakan komposter Biophoskko R Klin tersebut. Insyaallah kami bekerja terus merealisasikan kerja besar ini secara bertahap.

    Admin Poskko Hijau

    BalasHapus
  3. Anonim9:47 AM

    Assalamualaikum,

    Ini Bang Sonson semasa IPB tahun 1980 an ya ? Saya adik kelas Abang di Faperta sekarang di Jambi. Salut deh...........gimana saya hubungi agen jambi ? ada ?

    Kebetulan saya pernah riset di Selangor Malaysia tepatnya depan Pasar Borong. Saya tahu persis masalah sampah di Malaysia bang. Ini komposter luar biasa akan jadi devisa negara yang besar Bang !

    Tolong beri kami keterangan as soon as possible, kami haus info teknologi tepat yang akan menghasilkan bisnis dengan untung cepat seperti ini.

    Joko Purwanto
    Pasar Ango Duo- jambi

    BalasHapus

Mari gabung diskusi