5.20.2006

Membuat Kompos Di Kota


Membuat kompos sudah biasa dilakukan para petani di desa sejak puluhan tahun lampau. Kegiatan membuat kompos adalah melapukan atau menguraikan sampah dan limbah organik, dengan motivasi menghasilkan pupuk organik, memang bagian dari kebiasaan petani bagi pemenuhan kebutuhan tanaman akan pupuk. Tapi, bagi orang kota, walaupun sampah organik sebagai bahan baku pembuatan kompos keberadaannya sangat melimpah, baik di rumah maupun di berbagai lokasi penghasil sampah organik lainnya, membuat kompos dianggap sulit, rumit dan terkesan kumuh saja. 

Namun kini, dengan beredarnya di pasaran komposter BioPhoskko®, yakni alat mengolah sampah menjadi kompos, mendorong ibu rumah tangga, anak laki-laki dan gadis di kota Bandung bisa membuat kompos sendiri dengan praktis. Penampilan alat komposter yang bisa ditempatkan di rumah, membuat kompos di kota dari memanfaatkan bahan berupa sampah sisa masakan dan makanan rumah,  serasah pekarangan maupun lingkungan dimana ia tinggal, menjadikan pembuatan kompos sebagai kegiatan praktis dan tanpa risih lagi untuk dianggap kuno dan kumuh. Membuat kompos  di kota, dengan bantuan alat serta aktivator ini kini menjadi mudah, cepat, higienis dan memberi manfaat bagi keperluan pemupukan tanaman hias maupun tanaman obat keluarga di pekarangan rumah.

Membuat kompos memang bukan hal baru. Di Eropa, ibu rumah tangga, remaja, bapak bahkan anak-anak sudah terbiasa mengumpulkan sampah organik ( sampah basah atau sampah yang mudah terurai) kemudian memasukannya kedalam komposter dan dibubuhi mikroba serta mineral. Maka dalam 5-7 hari saja bahan sampah akan terdekomposisi menjadi kompos- tentunya setelah didinginkan 2-3 hari di tempat, tanpa panas matahari dan hujan. Di masyarakat negara maju, membuat kompos terdorong oleh kepedulian akan kelestarian lingkungan serta keinginan mendapatkan material pupuk - yang baik bagi pemeliharaan taman di rumah.
 
Mungkin agak berbeda dengan motivasi di negara maju,  masyarakat Indonesia mau memulai mengenal pembuatan kompos karena terdorong oleh makin besarnya ancaman atas kehadiran sampah di sekitar tempat tinggalnya. Dengan trauma masyarakat akan polutan yang ditimbulkan sampah seperti antara lain bau busuk, pencemaran air lindi ( leachete) serta udara kotor di dekat TPS maupun TPA ( Tempat Pembuangan Akhir ) Sampah, yang kini menjadi masalah di kota- khususnya kota Bandung, Cimahi, Kab Bandung, dan, diperkirakan juga akan menjadi masalah bagi kota-kota lainnya di Indonesia, membuat kompos adalah keniscayaan bagi semua orang.
Berdasar prediksi, akan muncul suatu saat sampah menjadi masalah besar di perkotaan serta menurunkan derajat kesehatan masyarakat, misalnya lahirnya penyakit leptospirosis ( penyebaran melalui urin tikus yang hidup dalam sampah ) suatu kota, maka CVSK sebagai produsen komposter BioPhoskko® pun kemudian memberi penyuluhan masyarakat akan mudahnya mengolah sampah organik menjadi kompos- yang kemudian memberi bermanfaat sebagai pupuk tanaman pekarangan. Bahkan, dengan adanya komposter, beberapa pemuda Karang Taruna di RW menjadikan bisnis kebersihan dengan mengutip retribusi dari rumah tangga atas jasa mengolah sampah rumah yang sulit dibuang ke TPA.  Dengan menempatkan beberapa unit komposter, jadilah Instalasi Pengolahan Kompos Kota (IPKK) , menjadi peluang usaha baru dengan pendapatan dari  pungutan kepada warga berupa retribusi kebersihan, menjual kompos hasil olahannya, menjual pupuk cair dari penampungan air lindi yang diendapkan, menjual plastik dan material hasil pemilahan dari sampah suatu lingkungan serta membuka jasa pengelolaan taman pekarangan.



Paket Komposter Biophoskko®
 
Komposter dan bahan pembuatan kompos kini dapat diperoleh hanya dengan harga yang setara tong sampah biasa. Ukuran S- yang memadai untuk rumah tangga dengan 5 jiwa, hanya Rp 295.000,-/paket sedangkan ukuran terbesar bagi suatu pengolahan sampah suatu rumah makan ( ukuran L) hanyalah Rp 595.000,-. Tentu saja berbeda halnya dengan keperluan suatu bisnis kecil, kebutuhan akan komposter bagi pengolahan sampah dari satu RW dengan kapasitas 2-3 m3 misalnya, kini dilakukan dengan cara menata puluhan komposter L atau menyediakan 5 unit komposter Rotary Klin seharga Rp 15.000.000,- / unit. bagi suatu bisnis malahan kemudian pengelola melengkapinya dengan motor roda-3 guna mengumpulkan sampah dari sekitar 500 rumah-rumah atau satu RW dengan cepat.

Gairah baru kini telah timbul dari ibu rumah tangga, anak gadis, anak laki-laki dan juga sang ayah, serta bahkan usaha kecil, dengan adanya inovasi komposter BioPhoskko® ini. Berkebun, memelihara taman pekarangan dan mengolah sampah dan membuat kompos di kota, kini menjadi mudah*).
 

3 komentar:

  1. Anonim5.34 AM

    Membuat kompos jadi keren nih

    BalasHapus
  2. ya, sesungguhnya tinggal kemauan dan komitmen, dengan dimulai cara buang sampah berdasar jenisnya, sampah organik bisa bermanfaat bagi pemberian pupuk tanaman di halaman pekarangan. Bahkan jenis tanaman obat, itu mutlak gunakan pupuk alami, jangan pupuk kimia, karena dikonsumsi manusia selagi segar (fresh) atau diambil sari tumbuhannya, sehingga beresiko jika kimia dari pupuk terkonsumsi.

    BalasHapus
  3. Anonim2.21 AM

    Mohon info pemesanan....
    Lurah@indosat.net.id

    BalasHapus

Mari gabung diskusi