2.06.2006

Pembuatan Kompos Sebagai Usaha Cleaning Service


Sampah di beberapa kota telah menimbulkan masalah karena volumenya makin meningkat namun, dilain pihak, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah makin sulit karena pada dasarnya masyarakat tidak suka dekat dengan sampah orang lain. 

Namun, di dunia ini suatu " masalah" bisa saja jadi "peluang". Usaha Jasa Kebersihan ( Cleaning Service) - yang asalnya hanya melayani suatu gedung perkantoran atau kantor pemerintahan kini tengah dikembangkan menjadi Usaha Jasa Kebersihan ( cleaning Service ) skala satu RW atau komplek perumahan ( Real Estate).


Dengan memanfaatkan motor roda tiga yang khusus dirancang bagi angkutan sampah- menggantikan roda dorong oleh manusia- petugas dengan cepat mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah suatu RW atau komplek perumahan sampai 300-500 rumah per hari. Jumlah sampah dari setiap rumah diketahui rata-rata 2,6 liter/ hari/ jiwa atau setara dengan 5-6,5 m3/hari/500 rumah tangga 5 jiwa.


Sampah yang dikumpulkan bukan untuk disimpan di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Sampah sebelum berakhir di TPA. Material yang terkumpul, dengan memanfaatkan Paket Teknologi Instalasi Bio Reaktor BRM L2- pada kapasitas 0,5 m3/unit /7 hari - yang menjadi media penyimpan proses dekomposisi secara aerob, sampah akan dikelola lebih lanjut hingga sangat sedikit sekali yang harus dibuang ke TPA. Dalam proses dekomposisi tersebut, sampah bisa busuk ( degradable seperti organik ) akan tereduksi hingga tinggal 20 % ( tergantung jenis komposisi sampah organik dan an-organik) hanya dalam hitungan 7 (tujuh) hari saja. Dengan demikian, bagi kepentingan mengelola sampah 5 m3/ hari diperlukan 5 m3/0,5 m3- unit/hari dikali 7 hari terus menerus atau keseluruhan akan berjumlah 70 unit Komposter L per Instalasi Pengolahan Sampah Kota (IPSK). Dengan modal investasi setara dengan 70 unit x Rp 475.000,-/ unit BRM L2 = Rp 33.250.000,- ditambah dengan 1 ( satu) unit motor Roda 3 ( tiga) Rp 12.750.000,- atau keseluruhan Investasi Tetap Rp 46.000.000,-
Tentu saja dari jasa dan pengelolaan tersebut akan didapatkan penerimaan setidaknya :


1. Retribusi Iuran Sampah dan kebersihan dari warga @ Rp 30.000 sd Rp 50.000,-/ rumah/bulan atau sekitar Rp 9.000.000,- sampai Rp 15.000.000,- /bulan/300 rumah,

2. Amilioran- yakni sejenis kompos ( standar 3) hasil pengayakan material halus dari bongkahan sampah terdekomposisi, 

3. Pupuk Organik Cair yang berharga sampai Rp 20.000/ 1 ltr - yakni cairan leachete yang tertampung dalam bagian bawah Bio Reaktor BRM Type L ini,

4. Material an-organik bahan daur ulang seperti plastik, logam, potongan kayu yang dapat dijual pula,

2 komentar:

  1. tetep aja Mas, terakhirnya mau di buang kemana? meskipun daerah kita bersih dan asri..tetep aja permasalahan utama ga bisa di atasi , menurut mas, TPA yang kyk gimana sih yang terbaik untuk masyarakat sekitarnya? BAng Yos pernah ngusulin menggunakan TPA yang sudah Hi-Tech dalam pengolahannya , namun tetep aja masyarakat ga bisa ngerti! karen takut daerah sekitarnya jadi bau, kotor dll..dan saya liat blog anda memang dikhususkan untuk mengenai permalahan kebersihan dan permasalahna sampah! thanks yaa Mas, semoga Indonesia kembali asri, bersih dan nyaman terbebas dan tumpukan sampah!

    BalasHapus
  2. Dengan reduksi sampah akan tergunakan 100 % karena hasil dekomposisi bisa diayak guna memisahkan antara plastik-logam dari kompos. Kami menganjurkan proses dekomposisi atas semua jenis sampah baru setelahnya diayak dengan mempertimbangkan kesulitan memasyarakatkan budaya memilah sampah di rumah- karena hasil dekomposisi akan membuat sampah menjadi tanah gembur, tidak berbagu dan kering.

    Kompos yang dihasilkan dari dekomposisi bersamaan dengan an-organik ( un-degradable seperti plastik, logam, kertas tebal) dalam waktu hanya 5 hari tidak mempengaruhi secara nyata pada pertambahan kandungan logam berat ( Al, Cd ) dalam kompos. Beda sekali dengan bahan sampah dari TPS/TPA yang seringkali sudah lama tercampur antara organik dan an-oraganik itu.

    Salam,
    Posko_hijau

    BalasHapus

Mari gabung diskusi