1.20.2006

Solusi Sampah Kota Tanpa TPA, Mungkinkah ?

Inilah gambar TPA Leuwigajah, yang pada 21 Februari tahun 2005 lalu menghebohkan  dunia karena, kok bisa tumpukan sampah di TPA ini longsor dan menyebabkan kematian lebih dari 200 jiwa manusia. Derita manusia akibat tragedi Leuwigajah belum berakhir, namun tetap banyak kota mencari TPA, walaupun sulit karena lahan yang memiliki akses dekat kota tempat dihasilkan sampah akan makin mahal dan banyak penduduk di sekitarnya. Trauma kematian  di TPA Leuwigajah telah menyadarkan masyarakat akan bahaya dari ancaman longsor, ledakan gas methan, bau sampah tiap hari dan tercemarnya air tanah oleh cairan lindi meresap kedalam sumur penduduk serta ancaman penyebaran bibit penyakit lainnya dari sumber sampah, khususnya di TPA. Lalu, bagaimana sebuah kota tanpa TPA ? Mungkinkah ?

Dengan sulitnya mendapatkan lokasi TPA,  sementara  sistim pengelolaan sampah di berbagai kota masih  cara kumpul angkut buang dan tentu akan bergantung pada lokasi pembuangan,  kini terdapat keterbatasan kemampuan Pemerintah Kota dalam pengelolaan sampah di Indonesia. Keadaan ini telah memberikan peluang usaha baru bagi kelompok usaha mikro maupun koperasi di wilayah RT/RW guna memanfaatkan sampah menjadi barang daur ulang  ( recycle) seperti barang alat rumah tangga, mainan anak, kompos maupun kriya kerajinan (handicraft). Pengusahaan daur ulang sampah menjadi barang berharga akan memberi manfaat guna meningkatkan kesehatan dan keindahan kota, mengisolasi penyebaran bau tidak enak (polusi) di lokasi TPS serta mengatasi penumpukan sampah sebagai akibat dari sarana angkutan sampah selama ini yang kurang efektif dan efisien. Disamping manfaat diatas, secara jangka panjang, usaha pengolahan sampah secara swakelola akan memberikan insentif ekonomi kepada semua pihak yang berperanan sehingga merupakan pendorong bagi perobahan kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan, keengganan petugas membawa sampah ke TPS tepat waktu serta kebiasaan masyarakat memperlakukan sampah yang suka buang dimana saja menjadi lebih berdisiplin.
Unit usaha ini, selanjutnya disebut Instalasi Pengolahan Sampah Kota (IPSK), berorientasi pada layanan dan kepuasan publik guna mendapat keuntungan secara wajar dan memberi perluasan kesempatan kerja serta mengurangi pengangguran. Instalasi pengelolaan sampah kota berada di dekat lokasi lingkungan masyarakat,  tempat dihasilkan dan sampah berada. Instalasi dilengkapi dengan alat pengolahan sampah berupa : 
1. Mesin pencacah untuk fungsi mengecilkan ukuran material serta  metoda pengomposan akan menggunakan Komposter Rotary Klin dengan mengolahnya secara fermentasi menjadi kompos, 
2. kendaraan bermotor Roda Tiga ( berdaya 100 – 150 CC ) untuk fungsi pengumpulan dan pengangkutan serta, 
3.fasilitas pengelolaan berupa lokasi di sekitar TPS, fasilitas pengemasan kompos serta pengumpulan bahan-bahan an-organik. 

Paket IPSK akan terdiri dari dari 1 Unit Motor Roda Tiga ( 100-150 CC ) dan 5 ( lima ) Unit Biophoskko Rotary klin kapasitas @ 3 m3 (~ 1000 kg) ditambah kelengkapan alat lainnya berupa alat penunjang kerja ( sekop, pot siram, dll). Pada kelengkapan ini akan berkemampuan mengangkut dan mengolah sampah sebesar 25 m3/ 5 hari/Instalasi atau setara dengan buangan sampah dari 1000 sd 2.000 Rumah Tangga/ hari. Hasil proses berupa kompos setara dengan 40 % X ( 25 m3 x 0,2 /koefisien berat sampah ) = 1000 kg, plastik sekitar 10 % dari total volume sampah asal atau sekitar 400 kg , pupuk cair 10 per mil ( 1/1000) dan logam serta bahan daur ulang lainnya.
Dalam melaksanakan pengolahan sampah (organik) dapat diikuti tatacara berikut :

Pertama, semua jenis sampah rumah tangga ( plastik, kertas, logam, sisa makanan, potongan sayuran, kulit buah, sisa ikan dan daging) dikumpulkan melalui motor keliling sebagaimana berjalan di level RW saat ini. 
Kedua, Kemudian campurkan penggembur ( balking agent ) Green Phoskko® sebanyak 1-3 % dari jumlah sampah atau setara dengan 10-30 kg untuk 1000 kg sampah organik - seukuran Rotary Klin RKM 1000L dan aduk hingga merata dengan menggerakan pedal pengayuh yang tersedia selama 10-20 menit.

Ketiga, saat terjadinya proses penyerapan penggembur ( balking agent ) kedalam bahan sampah, dilain tempat ( baskom atau ember ke-2) disiapkan larutan mikroba aktivator Green Phoskko® (Compost -Activator). Caranya, ambil 2,5 kg mikroba aktivator kompos dan larutkan dalam air sebanyak 10 - 20 liter atau sesuaikan dengan perkiraan  kelembaban adonan sampah yang akan diolah. Buat larutan merata, dengan beberapa kali mengaduknya, serta kemudian bisa langsung disiramkan kepada tumpukan bahan atau sampah dalam Bio komposter tadi - yang telah diaduk dengan penggembur ( langkah 2 diatas tadi) secara perlahan, sedikit demi sedikit atau terlebih dahulu simpan 2-4 jam akan lebih baik lagi.


Keempat, Dalam beberapa hari kemudian (hari ke 3 atau ke 4) akan terjadi reaksi panas sampai 70 derajat Celcius, jika ada, bisa diukur dengan menggunakan thermometer. Pada saat terjadinya reaksi panas usahakan jangan membuka Bio Reaktor agar terjadi dekomposisi sempurna namun tetap menghembuskan udara ( oksigen) melalui exhaust,
Kelima, pada hari ke 5- 6, reaksi dekomposisi dalam Rotary Klin akan selesai dan saat tersebut sampah bisa dikeluarkan dengan cara memutarnya dengan pintu mengarah kebawah/ lantai . Sampah terdekomposisi tersebut masih basah, lengket dan lembab sehingga guna membuat kering perlu disimpan di tempat teduh ( tanpa sinar matahari) namun tetap kena angin serta tutup dengan karung kemasan untuk diangin-anginkan. Maka dalam beberapa hari kemudian (umumnya 3-5 hari) sampah terdekomposisi yang asalnya basah akan menjadi kering dan gembur. Sampai tahap ini, tujuan mereduksi sampah dari kamba ( voluminess) dan bau akan tercapai karena sampah terdekomposisi hanya akan tinggal 10- 20% saja dibanding volume sebelumnya. Disamping terduksi, sampah terdekomposisi akan kering, gembur dan tidak berbau lagi.
Namun proses ini bisa dilanjutkan jika didasarkan pada kepentingan kelayakan ekonomi oleh suatu badan usaha. Sampah terdekomposisi akan menghasilkan kompos mutu rendah (standar 3 atau amilioran menurut standar Departemen Pertanian RI), plastik dan logam lainnya. Dari setiap sampah hasil dekomposisi akan didapatkan sekitar 70 % amilioran dan 30 % anorganik lainnya ( plastik, logam) yang kotor namun tetap layak untuk dijual. Memisahkan amilioran dengan an-organik caranya diayak hingga terpisahkan antara butir kecil, plastik, logam dan bahan amilioran (kompos standar 3) bongkahan ukuran besar. Sebenarnya, kompos berukuran besar bisa ditumbuk atau digunakan mesin Crusher guna menjadikannya butiran halus. Gundukan amilioran ( kompos standar 3) butiran kecil masukan kedalam kemasan sesuai yang direncanakan. 
Dengan paket IPSK akan berperanan besar dalam membantu mengatasi pengelolaan sampah kota di Indonesia.
Sebagai misal, bagi ukuran Kota Bandung dengan volume sampah 7500 m3 akan diperlukan 1500 unit Biophosko dengan masing-masing 5 m3/ hari atau 7500 unit untuk mengolah selama 5 hari terus menerus.  Bagi sebuah kota akan menjadi pilihan apakah menginvestasikan uangnya bagi model TPA dengan resiko penolakan warga sekitar ataukah mengembangkan IPSK di kawasan RW/ Komplek Perumahan secara terdesentralisasi ?

Keuntungan pengelolaan sampah IPSK BioPhoskko bagi pengelola (UKM maupun PD Kebersihan) adalah pendapatan dari retribusi warga yang dilayaninya. Dari sekitar 1.000 sd 2.000 rumah tangga atau ,sekitar Rp. 30 juta per bulan (asumsi retribusi per rumah Rp 30.000/bulan), realokasi retribusi dan anggaran dari Pemerintah Kota bagi pengangkutan sampah dari TPS ke TPA, sebagaimana selama ini sekitar Rp 80.000/ ton, penjualan kompos standar 3 ( amilioran), penjualan plastik bekas dan bahan daur ulang lainnya.  
Sementara bagi pemerintah kota, IPSK akan memberi manfaat dengan penyerapan tenaga kerja bagi 10 karyawan, terdapatnya banyak pengelola yang bersaing memberikan layanan terbaik karena persaingan dalam suatu keadaan sesuai mekanisme pasar, terdapatnya peluang usaha baru skala UKM bagi ribuan UKM dan dengan itu Kota akan bersih.

Kini, pada skala 1 unit / 5 hari atau lebih kecil dari model IPSK @ 5 Unittengah dikembangkan di kabupaten Bandung . Dengan 5 unit Rotary Klin telah berjalan pembuatan kompos, yang digemari para petani. Dalam model ini, berbeda dengan tatacara diatas, yakni dengan memisahkan terlebih dahulu antara organik dan an-organik karena ditujukan khusus membuat kompos yang baik.


2 komentar:

  1. Anonim4:36 AM

    berapa banyak keperluan investasi mesin Rotary Kiln bagi suatu kota ? apakah lebih murah dibanding dengan pengadaan TPA sampah ?

    BalasHapus
  2. satu instalasi Rotary Kiln terdiri 5 tabung kaps terbesar saat ini 2 ton atau 6 m3/ batch. Jika sampah kota kecil timbulkan sampah 250 ton/ hari, akan diperlukan 125 Instalasi. Dengan harga sekitar Rp 150 jt/ Instalasi, investasi diperlukan/ kota adalah Rp 18,75 milyar ( diluar bangunan tanpa dinding sekitar 100 m2/ lokasi instalasi).

    Setelah investasi mesin, biaya angkut sampah yang selama ini berlangsung dapat direlokasi kepada biaya pengolahan sampah menjadi kompos dan sortasi anorganik.

    Nilai investasi diatas maih setara dengan pembukaan TPA, namun Instalasi Rotary Kiln ini akan menghasilkan kompos dan aneka sampah anorganik.

    BalasHapus

Mari gabung diskusi