1.25.2006

Siapa Bilang Mengolah Sampah Bau ?

Persepsi mengolah sampah atau membuat kompos adalah berbau telah ditepis oleh Pak Anton Z.M yang beralamat di Komplek Ujungberung Indah Blok 29 No. 3 Bandung. Sebagai pensiunan dari pekerjaan di Bank BNI, Anton mengelola Komposter Bio Phoskko bantuan lingkungan PT Perseroan Gas Negara ( PT. PGN Persero) masing-masing unit berkapasitas 0,2 m3 atau keseluruhan mampu kelola 1.5 m3 untuk sebanyak 7 unit.

Kegiatan penanganan sampah dengan menggunakan Komposter Bio Phoskko sudah berjalan selama 1 bulan dengan memanfaatkan sumber sampah warga atau tetangga terdekat di lingkungan blok 29 Komplek tersebut.

Jenis sampah di dominasi dari limbah pemotongan rumput dan tanaman halaman rumah warga dan sampah rumah tangga yang di kelola dari rumah sekitar saja. Volume sampah yang di proses menjadi kompos tidak kurang dari 1-2 m3/ 2 minggu. Kompos yang di hasilkan telah dirasakan sangat bermanfaat dan dipakai untuk memupuk tanaman pekarangan, pembenihan mahkota dewa dan buah jeruk.

Hasil lain yang di manfaatkan Pak Anton adalah cairan yang keluar dari komposter ( leachete ) yang dimanfaatkan sebagai pupuk cair organik dan saat ini sudah menghasilkan 6 botol jeriken ± 5 liter untuk digunakan sendiri sebagai pupuk tanaman pekarangan, namun tidak mustahil suatu saat bisa dikomersilkan atau dijual.

Cerita Pak Anton tentang penggunaan komposter Bio Phoskko adalah meyakini kalau masalah sampah bisa diatasi di tingkat sumber penghasil sampah itu sendiri, yakni rumah dan lingkungan sekitar. Menurut Pak Anton, tingkat penyusutan sampah terjadi pada hari ke 5 dengan kondisi penyusutan sampai 60 % dan setiap ditambahkan bahan sampah baru selalu menyusut dengan cepat sehingga panen kompos paling banter setiap 2 minggu sekali saja.
Temuan pengalamannya juga membuktikan bahwa paket teknologi Phoskko harus digunakan secara seutuhnya. Pak Anton menguji dari 7 unit Komposter, 1 unit diantaranya dijadikan pembanding dengan pengolahan sampah tidak menggunakan mineral penggembur (bulking agent) dan aktivator Green Phoskko. Dan hasilnya seperti dapat diduga sebelumnya, sampai 1 bulan belum terjadi pengomposan serta keluar bau.

Hal sama diungkapkan Bapak Eman di Margahayu Kel. Sekejati. dengan menggunakan activator Green Phoskko bantuan PT.PGN (Persero), mengelola sampah menjadi kompos dapat dilakukan di depan rumahnya yang asri. Pengolahan sampah tidak menimbulkan bau dan kotoran lainnya. Bahkan, Ketua RW 22 Kel. Sekejati menyimpan komposter diantara tempat jemuran pakaian. Dari pengalamannya, komposter Green Phoskko - yang digunakan mengolah sampah dengan mengikuti anjuran dari perusahaan produsen CVSK bahwa mengolah sampah, sama sekali tidak menimbulkan bau.
Jadi kenapa disebut sampah menimbukan bau ? "Sampah yang sering diributkan orang berbau tersebut adalah jika sampah dibiarkan dalam media tong sampah tanpa udara selama lebih 24 jam" ujar pakar mikrobiologi UNPAD, Dr Tualar Simarmata.
Jadi percayalah, mengelola sampah dengan tatacara yang benar, cukup aerasi dan diberi mineral penggembur serta aktivator mikroba Green Phoskko, dijamin tidak menimbulkan bau lho ?

6 komentar:

  1. wah hebat, saya sangat tertarik dengan pengolahan sampah dan dari dulu selalu bertanya untuk bisa ke arah situ....numpang tanya..apakah ada alternatif mengolah sampah selain merubahnya menjadi kompos?

    BalasHapus
  2. Ya banyak alternatif teknik selain hanya dibuat kompos diantaranya dekomposisi digabungkan dengan menjadikan energi listrik, bio gas-gas metan jadi bahan bakar.

    Sementara itu, sampah an-organik seperti plastik dan logam di daur ulang menjadi barang kerajinan dan bahan baku plastik lagi. Banyak perusahaan kok yang terima plastik bekas- logam bekas, dll. Jadi pada dasarnya bisa dilakukan kampanye stop sampah rumah dan lingkungan ke TPS, maka TPA tinggal diperuntukan bagi sampah klinis-B3-sampah un-degradable lainnya. Bukankah jika TPA guna bahan tersebut tidak akan bau......ngak akan masalah dengan pengangkutan dan penolakan warga serta......usia pakainya jadi panjaaaaaaaaaang.
    Salam.
    Posko_hijau

    BalasHapus
  3. Anonim3:08 AM

    Menarik!..saya biasanya hanya menumpuk sisa makanan/sayuran/buah dlm satu wadah yang saya campur dg tanah dan saya diamkan(sesekali diaduk), tapi efeknya memang menimbulkan bau sekaligus mengundang tikus me-ngorek2 dimalam hari.tapi kalau sudah ngga muat ditampung akhirnya saya kubur dalam tanah.
    Pertanyaan:
    1.Apakah sisa2 makanan/sayur/buah yg dikubur dlm tanah dapat menyuburkan tanah disekitarnya?
    2.Benarkah cara mengurangi sampah di bak penampungan dengan jalan menguburnya dlm tanah?apakah tidak merusak kualitas air disekitarnya?
    3.Bagaimana cara saya mendapatkan alat pembuat pupuk kompos seperti yang dijelaskan di situs ini? (saya tinggal di tangerang:berapa harganya dan dimana belinya?).Tks.

    ramdani
    Medang Lestari
    Tangerang

    BalasHapus
  4. Mas Ramdani,

    Menimbun sampah di tanah tdk otomatis jadi kompos karena perlu lama dan resikonya ada keluaran lindi ( polutan) yang bs cemari air tanah........terbaik jk dibuat kompos di permukaan, setelah jd kompos dibenamkan ke sekitar tanaman.

    Info teknik dan katalog alat bisa dilihat di http://www.kencanaonline.com

    BalasHapus
  5. Anonim10:52 AM

    saya mau tanya pak...
    sekarang ini saya juga memproses sampah-sampah sisa makanan dan sayur-sayuran menjadi pupuk organik dg menggunakan tong plastik.
    saya sdh 2 bulan ini menjalankannya, dan pada kenyataanya cairan yang dihasilkan dari pembusukan sampah baunya sangat menyengat sekali, akan tetapi kalau ampas (hasil dari pembusukan sampah yang sudah kering) tidak bau,
    yang ingin saya tanyakan:

    1. Bagaimana caranya cairan sampah tersebut tidak bau? haruskah ditambahi dengan bahan2 yang lain???
    2. apakah kandungan bakteri yang terkandung didalam cairan ataupun pupuk keringnya tersebut?

    trima kasih pak, atas jawabannya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bau yang timbul dari proses komposting kemungkinan terjadinya kondisi an aerob, kekurangan oksigen kedlm material sehingga bakteri pathogenik yg justru bekerja menghailkan H2S, CH4, dll. Perbaiki atau pilih alat dekomposisi atau komposter yg benar, pastikan kandungan air dlm adonan dan pastikan bakteri aktivator yg memiliki populasi tinggi agar mampu mengalahkan bakeri pathogenic tsb

      Hapus

Mari gabung diskusi